UX/UI Designer and Linux Enthusiast.

User Story 101: Definisi dan Cara Menulisnya

User story

Selama memutuskan untuk terjun ke dunia UI/UX tiap kali mengerjakan project atau sekadar melakukan eksplorasi sebisa mungkin saya tidak melewatkan bagian membuat user story.

Entah itu aplikasi mobile maupun website.

Dengan membuat user story saya menjadi lebih mudah mendapatkan gambaran seperti apa nantinya product ini akan saya buat.

Memang salah satu fungsi dari User Story adalah lebih memberikan empati kepada user. Sehingga kita jadi lebih memahami apa yang user butuhkan.

Dalam tulisan ini saya akan membahas tentang user story, mulai dari pengertian, tujuan membuat user story, hingga cara membuat user story itu sendiri.

Apa itu User Story?

Dalam proses pengembangan software atau web aplikasi terlebih dahulu kita tentu akan membuat daftar dari apa-apa saja yang akan kita hadirkan di dalam software tersebut. Mulai dari kebutuhan user, apa yang user cari, hingga solusi terkait problem yang dialami oleh user.

Kita bisa mendapatkan data-data tersebut dengan menganalisa bebera aplikasi sejenis, mewawancarai orang-orang yang menggeluti bidang itu(narasumber), membuat kuisioner, hingga menganalisa permasalahan pada sistem yang berjalan.

Kalau sekadar merumuskan dan mengkonsepkan seperti itu mudah saja bukan? Palingan tinggal kita tulis-tulis saja di secarik kertas terus kita simpulkan.

Akan tetapi dalam beberapa upaya perumusan requirements software atau web aplikasi, tanpa konsep yang jelas kerap kali proses perumusan tersebut mengalami hambatan, entah itu karena perumusan yang acak-acakan hingga tidak tahu apa yang harus diutamakan.

Oleh sebab itulah, ada yang dikenal dengan sebutan “User Story”.

User story merupakan salah satu metodologi agile dalam proses dokumentasi kebutuhan sebuah sistem.

User story adalah deskripsi singkat dan sederhana tentang fitur yang diceritakan dari sudut pandang pengguna. User Story berperan sebagai pengartikulasi tentang bagaimana sebuah produk akan memberikan nilai tertentu kepada pelanggan.

Usut punya usut, User Story merupakan perumusan dokumentasi yang paling populer dalam metodologi Agile.

Hal itu dikarenakan User Story sangatlah sederhana. Dalam kata lain, kita tidak perlu menuliskan dokumentasi yang begitu detail hingga berlembar-lembar.

Manfaat menggunakan User Story

Dilansir dari visual-paradigm.com berikut beberapa alasan dan manfaat menggunakan User Story dalam proses pengembangan :

  1. Formula yang konsisten serta membuatnya menjadi lebih sederhana dan menghemat waktu proses perumusan.
  2. Memungkin untuk mengekspresikan nilai bisnis dengan memmberikan produk yang benar-benar dibutuhkan oleh klien.
  3. Mencegah terjadinya proses mendeskripsikan detail terlalu dini yang akan mencegah opsi desain dan mengekang developer secara tidak tepat ke dalam satu solusi.
  4. Memancing negosiasi ide-ide lain dan pergerakan di backlog karena requirement yang dibagi jadi potongan-potongan kecil.
  5. Menyerahkan fungsi teknis ke arsitek, developer, penguji, dan sebagiannya.

Cara membuat User Story?

Tujuan dari dibuatnya User Story adalah untuk membuat requirement terlihat lebih sederhana tanpa meninggalkan inti dari kebutuhan.

Agar User Story tersebut bertahan dan konsisten maka ada formula atau template dalam proses pembuatan User Story.

User story seringkali dituliskan dalam kalimat sederhana dengan susunan sebagai berikut:

As a [persona],

I [want to],

[so that].”

Atau dalam bahasa Indonesianya:

Sebagai seorang [persona]

Saya [ingin]

[Sehingga saya]

Sekarang mari kita bahas satu persatu:

  • As a [persona]

Untuk siapa kita membangun software atau aplikasi ini?

Misalnya kita sedang menggarap aplikasi penjualan jas. Anggaplah Bian adalah salah satu persona kita yang sedang mencari jas untuk acara wisudanya. Kita harus memiliki pemahaman yang sama tentang siapa Bian ini. Kita berusaha untuk memahami bagaimana orang ini bekerja dan berpikir, dan kata “As a” merupakan awal persetujuan bahwa kita akan berupaya memberikan empati untuk Bian.

Pada bagian As a ini kita akan mengikutinya dengan role dari user yang akan menggunakan aplikasi dari user story tersebut.

Kita bisa menulisnya seperti ini :

Sebagai seorang yang akan wisuda…

  • I [want to]

Pada bagian ini kita mulai menjelaskan maksud dan tujuan si Bian. Apa yang yang ingin ia cari dan ingin ia capai?

Bian sedang mencari jas di toko online untuk acara wisudanya.

Maka dari itu ia ingin mencari jas yang berkualitas serta melihat review-review yang positif dari para pembeli sebelumnya.

Kita bisa menulisnya seperti ini :

Saya ingin mencari jas berkualitas dengan review positif dari pembeli sebelumnya…

  • [so that]

Di bagian ini kita menjelaskan maksud dan tujuan utama dari Bian. Apa manfaat keseluruhan yang ingin ia capai? apa masalah besar yang ingin dipecahkan?

Karena kita tahu bahwa Bian akan membeli jas untuk acara wisudanya, maka kita bisa menulisnya seperti ini:

Sehingga saya bisa membeli jas berkualitas dengan percaya diri untuk acara wisuda.

Sekarang mari kita gabungkan…

Sebagai seorang yang akan wisuda, saya ingin mencari jas berkualitas dengan review positif dari pembeli sebelumnya, sehingga saya bisa membeli jas berkualitas dengan percaya diri untuk acara wisuda.

In english:

As a graduation person, I want to find quality suits with positive reviews from previous buyers, so that I can confidently buy quality suits for my graduation ceremony.

Meski tampak sederhana dan powerfull, user story memiliki beberapa kendala.

Seperti proses valdiasi dan verifikasi user story kerap kali menimbulkan konflik antara user dan developer. Hal ini disebabkan karena adanya ambiguity yang ditimbulkan oleh penggunaan user story serta kurang jelasnya ruang lingkup yang dijelaskan dalam user.

Dilansir dari socs.binus.ac.id/ tulisan Ibu Meiliana untuk mengatasi hal ini kita bisa menggunakan Acceptance Criteria untuk memperjelas dan memperdetail user story yang telah dibuat.

Di Agile, Acceptance Criteria mengacu pada serangkaian persyaratan yang telah ditentukan sebelumnya yang harus dipenuhi untuk menandai cerita pengguna selesai.

Acceptance Criteria terkadang juga disebut “Definition of done”.

Kita akan membahas lebih lanjut tentang accpetance criteria di tulisan selanjutnya.

User story bisa menjadi pilihan dalam langkah awal merumuskan sebuah software atau aplikasi yang sedang dibangun. Sifatnya yang sederhana dan friendly membuat user story mudah dipahami.

UX/UI Designer and Linux Enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *